Senin, 24 Februari 2014

Tak Ada Air Terjun, Pantai Pun Jadi


TAK ADA AiR TERJUN, PANTAI PUN JADI


Hari ini, Senin 24 Februari 2014 sekitar pukul 08.00 WIB.
Pagi ini saya berencana ke air terjun tujuh bidadari, namun apalah daya cuaca mendung disertai hujan. Saya dan Marya (sahabat saya) nongkrong sembari ngopi dan menunggu hujan reda di rumah Ratna (sahabat saya juga). Kecewa iya pasti, karena saya sudah membawa kamera DSLR, lengkap dengan tripod, dan bekal pengetahuan saya mengenai teknik memotret air terjun.

Pukul 10.00 WIB cuaca berubah cerah seketika kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Kampoeng Djowo Sekatul. Wah... diluar planning nih. Tripod saya titipkan di rumah Ratna. Lalu, kami sampai di sana dan seperti orang hilang saja. Sepi dan binggung mau ngapain. Isinya bangunan yang didominasi oleh unsur kayu, seperti rumah Jawa tradisional dan saung-saung. Walaupun ada kolam renang, outbond, dan sungai tapi tak satupun menarik keinginan saya untuk jeprat-jepret.  Yasudah saya nggak mood dan nggak dapet feel mau foto apaan, saya minta pulang. Eh, ada toko souvenir tuh. Namanya perempuan lihat toko souvenir ya mata jadi ijo (alias hijau). Kayak lihat uang aja...hahahaha. Masuk ke toko souvenir, kami membeli beberapa oleh-oleh.

Kok rasanya kurang puas ya jalan-jalannya? Saya minta ganti lokasi, kali ini kita memilih pantai Ngebum. Segera kami naik motor ke Desa Mororejo di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Dari Sekatul kami melewati jalan raya Boja-Kaliwungu. Di beberapa bagian perjalanan saya seperti memasuki “dunia lain”. Sumpah, jalanannya keren bagaikan aspal ditenggah hutan tak tertembus matahari. Super sejuk, lembab, dan pastinya saya menghirup banyak oksigen fresh. Sayang saya tak sempat mengabadikan momen di sana.

Sampai juga di Kaliwungu, mampir dulu ke Masjid Al Muttaqin untuk sholat. Saat mau melanjutkan perjalanan menuju pantai Ngebum kami makan bakso dulu (hahaha asyik ditraktir sama Marya) . Oh ya, saya sempat mengambil foto masjid ini. Menurutku bangunannya bagus, jadi sayang kalau nggak foto setidaknya satu. 

Siang hari di tempat tujuan, kami di sambut gapura bertuliskan Desa Mororejo, kemudian jauh beberapa meter didepan ada plang bertuliskan Pantai Ngebum, tak ada petunjuk arah. Untungnya ada Ratna yang sudah pernah ke sini. Jalannya sih tinggal lurus saja terus sampai mentok. Tiba di loket pantai Ngebum, kita disuruh membayar Rp.2000,- per orang. Haaahh... yang bener? Murah banget ini, tapi kata Ratna memang segitu soalnya hari kerja. Kalau weekend mungkin beda lagi ceritanya. Eh...nyampai parkiran kok ya malah lebih mahal, per motornya Rp.3000,-.

Menginjakkan kaki di pantai kami kembali serasa orang hilang. Krikkk krikkk krikkk... sepi deh. Woooiii this is Monday. But we are happy, because this beach like our private beach. Yeeaahhh!!!! Sebenarnya sih saya suka pantai Cuma nggak suka aja sama panasnya. Saya lebih suka ke hutan (mungkin) berpetualang menuju air terjun.

Kembali lagi ke topik saya mengenai pantai. Walau airnya tak jernih dan pasirnya tak putih, namun pasir pantai ini halus, terdengar deburan ombak, disertai semilir angin. Nyantai dulu lah di kursi pantai ini sambil ngadem di bawah pohon. Eiitsss..Ini sewa lho... satunya Rp.5000,-. Saya peringatkan untuk hati-hati dengan ulat bulu di atas pohon ya. Bisa-bisa tiduran lama-lama di sana, pulang malah gatel-gatel.

Di sini saya agak binggung, karena saya belum belajar tips dan trik juga teknik memotret pantai yang bagus seperti apa. Ya sudah asal jeprat-jepret aja sama sahabat-sahabatku ini. Yang penting H A P P Y   :-D

Nih saya liatin foto-fotonya.
1...2...3....Lompat.....
 
Lepas sendal dulu..

Maninan kerang dan pasir
 
Nemu sandal busuk, siapa mau?? wkwkwkkkk
 
Ngumpulin kerang nih..
 
hmmm mikirin apa sih????
 
 
 Masjid Al-Muttaqin, Kaliwungu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar